<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"><channel><title>Putu Agustio Mahendra</title><description>I&apos;m Putu, a software engineer. This is where I keep the things I build, the art I make, what I&apos;m reading, and the occasional thought worth writing down.</description><link>https://agust.io/</link><language>en-US</language><lastBuildDate>Mon, 21 Sep 2026 10:18:14 GMT</lastBuildDate><generator>Astro</generator><copyright>© 2026 Putu Agustio Mahendra</copyright><ttl>60</ttl><item><title>Perang melawan rasa bosan</title><link>https://agust.io/blog/perang-melawan-rasa-bosan/</link><guid isPermaLink="true">https://agust.io/blog/perang-melawan-rasa-bosan/</guid><description>Merangkai kembali warna-warni yang mulai memudar di antara rutinitas.</description><pubDate>Sat, 06 Sep 2025 00:00:00 GMT</pubDate><content:encoded>&lt;h2&gt;Masuk angin&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Kiko merasa tidak enak badan. Bukan sakit, tapi juga jelas tidak sehat. Badannya terasa berat, kepalanya sedikit pening, dan yang paling parah, semangatnya seperti menguap entah ke mana. Ia menatap layar ponsel, &lt;em&gt;scroll&lt;/em&gt; tanpa tujuan, tapi tak ada satu pun yang menarik hatinya. &quot;Masuk angin, nih, kayaknya,&quot; gumamnya pada diri sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Refleks pertamanya, seperti kebanyakan dari kita, adalah mencari solusi instan. Ia minta dikerok, lalu menenggak segelas jahe hangat. Untuk sesaat, ia merasa lebih baik. Punggungnya yang memerah seolah menjadi bukti bahwa &quot;angin&quot; jahat itu telah berhasil diusir.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi keesokan harinya, perasaan itu kembali. Rasa hampa yang sama, ketidakberdayaan yang identik. Kiko mulai bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar cuma soal &lt;em&gt;angin&lt;/em&gt;? Atau jangan-jangan, ini adalah sinyal dari sesuatu yang lebih dalam? Sinyal bahwa ia bukan sekadar masuk angin, tapi sudah lelah, lelah dengan rutinitas pekerjaan yang monoton, lelah dengan tagihan yang terus datang, lelah merasa berlari di tempat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kisah Kiko adalah kisah kebanyakan dari kita. Kita sering memperlakukan rasa bosan seperti masuk angin: sebuah gangguan sepele yang cukup diatasi dengan &quot;kerokan&quot; instan berupa hiburan digital. Padahal, bagaimana jika rasa bosan itu bukanlah penyakitnya, melainkan diagnosis awalnya? Sebuah sinyal dari tubuh dan jiwa bahwa ada yang salah, ada yang butuh perhatian lebih dari sekadar pengalih perhatian sesaat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tulisan ini adalah undangan untuk berhenti mengerok rasa bosan, dan mulai bertanya: &quot;Sebenarnya, kenapa saya &apos;masuk angin&apos;?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Sains &amp;amp; Psikologi&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Belakangan ini saya banyak membaca tentang cara kerja otak, dan menemukan satu hal menarik. Rasa bosan ternyata bukan sekadar kekosongan. Ia adalah sinyal dari otak yang sedang kelaparan. Bukan lapar akan makanan, tapi akan makna.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita semua tahu rasanya. Mungkin saat membaca tulisan ini pun, ada notifikasi yang berkedip di sudut layar, menggoda untuk diklik. Atau jempol yang refleks ingin &lt;em&gt;scroll&lt;/em&gt; ke bawah, mencari &quot;sesuatu&quot; yang baru. Setiap &lt;em&gt;scroll&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;like&lt;/em&gt; itu seperti gula-gula bagi otak. Suntikan dopamin instan yang manis tapi tak pernah benar-benar mengenyangkan. Inilah jebakan kita hari ini. Kita kenyang oleh hiburan, tapi lapar akan kepuasan batin.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Padahal, ada keajaiban kecil yang terjadi saat kita berani menahan diri untuk tidak meraih ponsel saat bosan. Otak kita memiliki mode istirahat yang disebut &lt;em&gt;Default Mode Network&lt;/em&gt; (DMN). Saat mode ini aktif, biasanya saat kita melamun atau menatap langit-langit, otak justru sibuk menyambungkan ide-ide acak, memutar ulang kenangan manis, dan merajut mimpi masa depan. Di ruang sunyi inilah kreativitas seringkali lahir. Sayangnya, kita sering mematikan proses ini dengan distraksi sebelum ia sempat mekar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, rasa bosan berbeda dengan apatis. Bosan itu gelisah. Ada energi di sana, ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, apatis adalah ketiadaan rasa. Bukan cuma tak tertarik, tapi juga tak punya tenaga untuk mencari. Jika yang dirasakan adalah kekosongan yang melumpuhkan seperti ini, mungkin itu sinyal dari sesuatu yang lebih serius, dan tak ada salahnya untuk berbagi beban dengan orang lain.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Jiwa yang Lelah&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Kadang, rasa bosan itu bukan karena kurang hiburan, tapi karena kita lelah. Lelah dengan rutinitas yang itu-itu saja: bangun pagi, kerja, macet, pulang, tidur, ulangi lagi. Lelah dengan tanggung jawab yang rasanya tidak ada habisnya, seperti tagihan yang selalu datang tepat waktu atau ekspektasi orang lain yang harus dipenuhi. Ini bukan bosan yang bisa disembuhkan dengan nonton film. Ini adalah kelelahan jiwa yang bertanya, &quot;Memangnya hidup cuma begini saja?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada juga rasa bosan yang datang dari luar diri kita. Saat kita merasa tidak berdaya (&lt;em&gt;powerless&lt;/em&gt;) melihat keadaan sekitar. Mungkin lelah dengan berita politik yang carut-marut, cemas dengan kondisi ekonomi, atau frustrasi karena merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak kita sukai tapi tidak bisa ditinggalkan. Rasa bosan di sini adalah bentuk penyerahan diri sementara. Sebuah cara bagi pikiran kita untuk berkata, &quot;Ini terlalu berat, aku butuh istirahat sejenak dari semua ini.&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan yang paling dalam, rasa bosan bisa menjadi topeng untuk luka emosional. Saat kita bilang &quot;aku bosan&quot;, mungkin yang sebenarnya kita rasakan adalah &quot;aku sedih,&quot; &quot;aku cemas,&quot; atau &quot;aku kecewa.&quot; Rasa bosan menjadi cara aman untuk menghindari perasaan yang lebih menyakitkan seperti penyesalan, trauma, atau rasa sepi yang menumpuk. Ini adalah &quot;bosan menderita,&quot; sebuah kondisi di mana jiwa kita sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun, sehingga ia memilih untuk tidak merasakan apa-apa sama sekali.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Mendiagnosis Sunyi&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin kita perlu berhenti menyatakan &quot;perang&quot; terhadap rasa bosan. Perang itu melelahkan dan seringkali salah sasaran. Bagaimana kalau kita ganti pendekatannya? Bukan perang, tapi diagnosis.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Daripada buru-buru mencari obat, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: &quot;Sebenarnya, bosan yang saya rasakan ini jenis yang mana? Apakah ini &apos;bosan ringan&apos; karena kurang mainan, atau &apos;bosan berat&apos; karena jiwa yang lelah?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika ini sekadar &quot;bosan ringan&quot;, mungkin obatnya sederhana: diam. Alih-alih langsung meraih ponsel, kita bisa mencoba membiarkan pikiran melamun barang lima menit. Membiarkan &lt;em&gt;Default Mode Network&lt;/em&gt; itu bekerja. Siapa tahu, di tengah keheningan itu, ide-ide iseng justru muncul. Atau mungkin, ini saatnya memberi izin pada diri sendiri untuk melakukan hal-hal &quot;tidak penting&quot; yang selama ini tertunda, entah itu belajar gitar dari YouTube atau sekadar jalan-jalan sore tanpa tujuan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, jika yang dirasakan adalah &quot;bosan berat&quot; atau kelelahan eksistensial, solusinya mungkin tidak sesederhana mencari hobi baru. Ini bukan lagi soal &quot;apa yang harus dilakukan,&quot; tapi soal &quot;bagaimana bisa merasa hidup lagi.&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seringkali, rasa berdaya itu kembali lewat hal-hal kecil. Bukan perubahan drastis dalam semalam, tapi aksi mikro yang bisa kita kontrol sepenuhnya. Merapikan satu laci meja, membaca satu halaman buku, atau menyelesaikan satu tugas kecil. Kemenangan-kemenangan kecil ini, meski remeh, adalah bukti bahwa kita masih punya kendali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan di atas segalanya, rasa hampa seringkali diperparah oleh isolasi. Terhubung kembali dengan manusia lain, teman lama atau keluarga bisa menjadi penawar yang ampuh. Bahkan, mengakui bahwa &quot;saya tidak baik-baik saja&quot; kepada profesional adalah langkah berani, bukan tanda kelemahan.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Mencari Keseimbangan di Tengah Kekosongan&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Pada akhirnya, &quot;perang melawan rasa bosan&quot; seringkali adalah perang yang salah alamat. Mungkin musuh sebenarnya bukanlah rasa bosan itu sendiri, melainkan kondisi-kondisi yang membuat hidup kita terasa hampa, melelahkan, dan tidak bermakna.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi, lain kali &quot;angin&quot; rasa bosan itu datang, mungkin kita tidak perlu buru-buru mengeroknya dengan distraksi. Kita bisa berhenti sejenak dan mendengarkan. Mungkin ia tidak datang untuk mengganggu. Mungkin ia datang membawa sebuah undangan. Undangan untuk bertanya pelan-pelan pada diri sendiri: &quot;Apa yang sesungguhnya aku butuhkan untuk merasa hidup kembali?&quot;&lt;/p&gt;
</content:encoded><media:content url="https://agust.io/_astro/bosan.CtT-giNj.jpg" medium="image" type="image/jpeg" width="1800" height="1080"/><dc:creator>Putu Agustio M</dc:creator><category>Blog</category><category>introduction</category><category>personal</category><category>blog</category><category>articles</category><category>thoughts</category><author>Putu Agustio M</author></item><item><title>White Night</title><link>https://agust.io/blog/white-night/</link><guid isPermaLink="true">https://agust.io/blog/white-night/</guid><description>Merangkai kembali warna-warni yang mulai memudar di antara rutinitas.</description><pubDate>Sat, 06 Sep 2025 00:00:00 GMT</pubDate><content:encoded>&lt;h2&gt;Masuk angin&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Kiko merasa tidak enak badan. Bukan sakit, tapi juga jelas tidak sehat. Badannya terasa berat, kepalanya sedikit pening, dan yang paling parah, semangatnya seperti menguap entah ke mana. Ia menatap layar ponsel, &lt;em&gt;scroll&lt;/em&gt; tanpa tujuan, tapi tak ada satu pun yang menarik hatinya. &quot;Masuk angin, nih, kayaknya,&quot; gumamnya pada diri sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Refleks pertamanya, seperti kebanyakan dari kita, adalah mencari solusi instan. Ia minta dikerok, lalu menenggak segelas jahe hangat. Untuk sesaat, ia merasa lebih baik. Punggungnya yang memerah seolah menjadi bukti bahwa &quot;angin&quot; jahat itu telah berhasil diusir.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi keesokan harinya, perasaan itu kembali. Rasa hampa yang sama, ketidakberdayaan yang identik. Kiko mulai bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar cuma soal &lt;em&gt;angin&lt;/em&gt;? Atau jangan-jangan, ini adalah sinyal dari sesuatu yang lebih dalam? Sinyal bahwa ia bukan sekadar masuk angin, tapi sudah lelah, lelah dengan rutinitas pekerjaan yang monoton, lelah dengan tagihan yang terus datang, lelah merasa berlari di tempat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kisah Kiko adalah kisah kebanyakan dari kita. Kita sering memperlakukan rasa bosan seperti masuk angin: sebuah gangguan sepele yang cukup diatasi dengan &quot;kerokan&quot; instan berupa hiburan digital. Padahal, bagaimana jika rasa bosan itu bukanlah penyakitnya, melainkan diagnosis awalnya? Sebuah sinyal dari tubuh dan jiwa bahwa ada yang salah, ada yang butuh perhatian lebih dari sekadar pengalih perhatian sesaat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tulisan ini adalah undangan untuk berhenti mengerok rasa bosan, dan mulai bertanya: &quot;Sebenarnya, kenapa saya &apos;masuk angin&apos;?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Sains &amp;amp; Psikologi&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Belakangan ini saya banyak membaca tentang cara kerja otak, dan menemukan satu hal menarik. Rasa bosan ternyata bukan sekadar kekosongan. Ia adalah sinyal dari otak yang sedang kelaparan. Bukan lapar akan makanan, tapi akan makna.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita semua tahu rasanya. Mungkin saat membaca tulisan ini pun, ada notifikasi yang berkedip di sudut layar, menggoda untuk diklik. Atau jempol yang refleks ingin &lt;em&gt;scroll&lt;/em&gt; ke bawah, mencari &quot;sesuatu&quot; yang baru. Setiap &lt;em&gt;scroll&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;like&lt;/em&gt; itu seperti gula-gula bagi otak. Suntikan dopamin instan yang manis tapi tak pernah benar-benar mengenyangkan. Inilah jebakan kita hari ini. Kita kenyang oleh hiburan, tapi lapar akan kepuasan batin.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Padahal, ada keajaiban kecil yang terjadi saat kita berani menahan diri untuk tidak meraih ponsel saat bosan. Otak kita memiliki mode istirahat yang disebut &lt;em&gt;Default Mode Network&lt;/em&gt; (DMN). Saat mode ini aktif, biasanya saat kita melamun atau menatap langit-langit, otak justru sibuk menyambungkan ide-ide acak, memutar ulang kenangan manis, dan merajut mimpi masa depan. Di ruang sunyi inilah kreativitas seringkali lahir. Sayangnya, kita sering mematikan proses ini dengan distraksi sebelum ia sempat mekar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, rasa bosan berbeda dengan apatis. Bosan itu gelisah. Ada energi di sana, ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, apatis adalah ketiadaan rasa. Bukan cuma tak tertarik, tapi juga tak punya tenaga untuk mencari. Jika yang dirasakan adalah kekosongan yang melumpuhkan seperti ini, mungkin itu sinyal dari sesuatu yang lebih serius, dan tak ada salahnya untuk berbagi beban dengan orang lain.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Jiwa yang Lelah&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Kadang, rasa bosan itu bukan karena kurang hiburan, tapi karena kita lelah. Lelah dengan rutinitas yang itu-itu saja: bangun pagi, kerja, macet, pulang, tidur, ulangi lagi. Lelah dengan tanggung jawab yang rasanya tidak ada habisnya, seperti tagihan yang selalu datang tepat waktu atau ekspektasi orang lain yang harus dipenuhi. Ini bukan bosan yang bisa disembuhkan dengan nonton film. Ini adalah kelelahan jiwa yang bertanya, &quot;Memangnya hidup cuma begini saja?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada juga rasa bosan yang datang dari luar diri kita. Saat kita merasa tidak berdaya (&lt;em&gt;powerless&lt;/em&gt;) melihat keadaan sekitar. Mungkin lelah dengan berita politik yang carut-marut, cemas dengan kondisi ekonomi, atau frustrasi karena merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak kita sukai tapi tidak bisa ditinggalkan. Rasa bosan di sini adalah bentuk penyerahan diri sementara. Sebuah cara bagi pikiran kita untuk berkata, &quot;Ini terlalu berat, aku butuh istirahat sejenak dari semua ini.&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan yang paling dalam, rasa bosan bisa menjadi topeng untuk luka emosional. Saat kita bilang &quot;aku bosan&quot;, mungkin yang sebenarnya kita rasakan adalah &quot;aku sedih,&quot; &quot;aku cemas,&quot; atau &quot;aku kecewa.&quot; Rasa bosan menjadi cara aman untuk menghindari perasaan yang lebih menyakitkan seperti penyesalan, trauma, atau rasa sepi yang menumpuk. Ini adalah &quot;bosan menderita,&quot; sebuah kondisi di mana jiwa kita sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun, sehingga ia memilih untuk tidak merasakan apa-apa sama sekali.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Mendiagnosis Sunyi&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin kita perlu berhenti menyatakan &quot;perang&quot; terhadap rasa bosan. Perang itu melelahkan dan seringkali salah sasaran. Bagaimana kalau kita ganti pendekatannya? Bukan perang, tapi diagnosis.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Daripada buru-buru mencari obat, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: &quot;Sebenarnya, bosan yang saya rasakan ini jenis yang mana? Apakah ini &apos;bosan ringan&apos; karena kurang mainan, atau &apos;bosan berat&apos; karena jiwa yang lelah?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika ini sekadar &quot;bosan ringan&quot;, mungkin obatnya sederhana: diam. Alih-alih langsung meraih ponsel, kita bisa mencoba membiarkan pikiran melamun barang lima menit. Membiarkan &lt;em&gt;Default Mode Network&lt;/em&gt; itu bekerja. Siapa tahu, di tengah keheningan itu, ide-ide iseng justru muncul. Atau mungkin, ini saatnya memberi izin pada diri sendiri untuk melakukan hal-hal &quot;tidak penting&quot; yang selama ini tertunda, entah itu belajar gitar dari YouTube atau sekadar jalan-jalan sore tanpa tujuan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, jika yang dirasakan adalah &quot;bosan berat&quot; atau kelelahan eksistensial, solusinya mungkin tidak sesederhana mencari hobi baru. Ini bukan lagi soal &quot;apa yang harus dilakukan,&quot; tapi soal &quot;bagaimana bisa merasa hidup lagi.&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seringkali, rasa berdaya itu kembali lewat hal-hal kecil. Bukan perubahan drastis dalam semalam, tapi aksi mikro yang bisa kita kontrol sepenuhnya. Merapikan satu laci meja, membaca satu halaman buku, atau menyelesaikan satu tugas kecil. Kemenangan-kemenangan kecil ini, meski remeh, adalah bukti bahwa kita masih punya kendali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan di atas segalanya, rasa hampa seringkali diperparah oleh isolasi. Terhubung kembali dengan manusia lain, teman lama atau keluarga bisa menjadi penawar yang ampuh. Bahkan, mengakui bahwa &quot;saya tidak baik-baik saja&quot; kepada profesional adalah langkah berani, bukan tanda kelemahan.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Mencari Keseimbangan di Tengah Kekosongan&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Pada akhirnya, &quot;perang melawan rasa bosan&quot; seringkali adalah perang yang salah alamat. Mungkin musuh sebenarnya bukanlah rasa bosan itu sendiri, melainkan kondisi-kondisi yang membuat hidup kita terasa hampa, melelahkan, dan tidak bermakna.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi, lain kali &quot;angin&quot; rasa bosan itu datang, mungkin kita tidak perlu buru-buru mengeroknya dengan distraksi. Kita bisa berhenti sejenak dan mendengarkan. Mungkin ia tidak datang untuk mengganggu. Mungkin ia datang membawa sebuah undangan. Undangan untuk bertanya pelan-pelan pada diri sendiri: &quot;Apa yang sesungguhnya aku butuhkan untuk merasa hidup kembali?&quot;&lt;/p&gt;
</content:encoded><media:content url="https://agust.io/_astro/fd.BsSz6zMn.png" medium="image" type="image/png" width="3200" height="4000"/><dc:creator>Putu Agustio M</dc:creator><category>Blog</category><category>introduction</category><category>personal</category><category>blog</category><category>articles</category><category>thoughts</category><author>Putu Agustio M</author></item><item><title>Personal</title><link>https://agust.io/projects/personal/</link><guid isPermaLink="true">https://agust.io/projects/personal/</guid><description>This site. I built it to keep my work, my writing and my reading in one place, instead of scattered across other people&apos;s platforms.</description><pubDate>Mon, 04 Aug 2025 00:00:00 GMT</pubDate><content:encoded>&lt;h2&gt;Project Overview&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;My goal was to build a personal website that felt clean, modern, and had personality. I wanted to show I could build a site from the ground up, from initial design all the way to deploying it live. But it&apos;s also a place for me to share my journey as I explore tech, art, and other random things.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;I hope to learn from it, share with others, and have something to look back on when I feel a little lost. On top of that, I really wanted to get back into writing. It&apos;s been a long time since I&apos;ve written an article about anything.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Design and Asset Creation&lt;/h2&gt;
&lt;h3&gt;Logo and Brand Assets&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;To create the logo, I took inspiration from a few things: owls, primates, and the letters &apos;p&apos; and &apos;g&apos;. Before landing on the final version, I experimented with all sorts of logo types, from pure typography to different shapes and combinations of the two.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;../../assets/images/project/personal/logo-construction.png&quot; alt=&quot;logo construction&quot; /&gt;
&lt;img src=&quot;../../assets/images/project/personal/logo-mark.png&quot; alt=&quot;logo mark&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;My Process for Creating the Logo&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;I don&apos;t believe in hard rules for making a logo. You can do whatever you want, as long as you or the client is happy. I like having a consistent approach, but I don&apos;t follow it strictly.&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Gathering References&lt;/strong&gt;: Gathering references is a huge help when creating a logo. It can be anything, really, even just other logos you like. I use them for inspiration.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;The Silhouette&lt;/strong&gt;: The silhouette is crucial. The logo&apos;s shape should be recognizable whether it&apos;s zoomed way in or out. For a shape-based logo, I test this by shrinking it down to favicon size, about 20x20 pixels.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Shades and Colors&lt;/strong&gt;: A logo has to work in black and white, not just at different sizes. It should be recognizable without any color. For colors, I try to stick to a maximum of two or three. Too many colors can look inconsistent at different sizes or in grayscale, and harmonizing them is just plain difficult.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Make a Lot of Them&lt;/strong&gt;: Creating a logo takes time; you rarely nail it on the first try. So, I make a bunch in my free time. Then I&apos;ll filter them down to my top five, and then filter again until I have a the one i really like. Sometimes I&apos;ll even brainstorm new versions while I&apos;m filtering. I just repeat that process until I land on one I really like.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;The &quot;Gimmick&quot;&lt;/strong&gt;: You might see the dashed lines in the logo construction image. I see it as a bit of a gimmick. Sometimes I use guidelines to create a logo, but most of the time I don&apos;t. I only used them here for the presentation. Don&apos;t let lines and circles limit your creativity.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;No Rules&lt;/strong&gt;: Principles are good, but don&apos;t let them limit your expression.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;h3&gt;Typography&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;I wanted clean, modern fonts, which is why I chose Inter and paired it with Bebas. Inter is specifically designed for computer screens, which is a huge plus. It&apos;s also a free and open-source font family. For Bebas, I wanted something bold that didn&apos;t look too bulky. To get the line height and letter spacing just right, I used a cool tool called &lt;a href=&quot;https://rsms.me/inter/lab&quot;&gt;&lt;strong&gt;Inter Dynamic Metrics&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;../../assets/images/project/personal/typography.png&quot; alt=&quot;typography&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Colors&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;The color scheme is inspired by Tridatu. &apos;Tri&apos; means three and &apos;Dhatu&apos; means element. It&apos;s a symbol with three colors: red for creation, black for preservation, and white for destruction.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;../../assets/images/project/personal/colors.png&quot; alt=&quot;main colors&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;Building for Modern Screens&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;This project primarily uses the OKLCH color space, with some HEX and RGB mixed in. Global browser support for OKLCH is over 92%, which is pretty solid. So, why use OKLCH? It makes working with light and dark modes much easier, and you get a consistent look when playing with the hue.&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;Color Contrast&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;But what&apos;s the point of a fancy color space if you can&apos;t read the text? During the design phase, I made sure everything passed the Web Content Accessibility Guidelines (WCAG). I aimed for at least AA and sometimes AAA levels. For checking, I mostly used a WCAG Color Contrast Checker I found online, along with axe DevTools.&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;UI/UX Prototyping (Figma)&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;For the early mockups, I took a wireframe-style approach. I used shades and simple shapes but tried not to make it look as primitive as a typical wireframe. This project was also a good excuse to build a mini design system for myself. I leaned heavily into Figma&apos;s features like variables, styles, auto layout, and components with variants.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;../../assets/images/project/personal/prototype.png&quot; alt=&quot;prototype UI&quot; /&gt;
&lt;img src=&quot;../../assets/images/project/personal/prototype-blog-project.png&quot; alt=&quot;prototype UI blog and project&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Technical Architecture&lt;/h2&gt;
&lt;h3&gt;Frontend&lt;/h3&gt;
&lt;h4&gt;Why Astro?&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;Initially, I just wanted to test out Astro and needed a project to experiment with. I didn&apos;t choose it just for its speed and content-first approach. I was more interested in its flexibility, like bringing in components from other frameworks. I ended up not using that feature and focused more on the content side of things. My favorite Astro features are definitely the file-based routing and its clean component structure.&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;Interactivity with GSAP and Three.js&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;At first, I was just using CSS for animations. That was time-consuming, and for complex animations, the code got messy fast. To speed things up, I needed a robust library worth learning. That&apos;s why I picked GSAP. For 3D, I went with Three.js because it&apos;s the king of the 3D web space.&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;Accessibility&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;From the start, I wanted this project to be accessible for everyone. Accessibility (often called a11y) was a primary goal. I&apos;m still conflicted, though, because I removed the scrollbar for aesthetic reasons. The browser devtools and the built-in Astro devToolbar were great for spotting accessibility issues along the way.&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;Optimization and Performance&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;I spent a lot of time optimizing this project. I manually chunked code, used modern image formats like WebP, and served images at the right size for the screen. I also optimized the 3D objects and set up gzip and brotli compression. The results are solid on both mobile and desktop. The site&apos;s performance would be nearly perfect if not for the complex animations. They&apos;re entirely to blame for the performance hit. I had to make a choice: change the animations or sacrifice some speed for the visuals I wanted. I chose the visuals.&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Infrastructure (AWS)&lt;/h3&gt;
&lt;h4&gt;Why AWS?&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;The only reason this site is on AWS is because I&apos;m familiar with it and wanted to learn more. There are plenty of more straightforward options out there. I&apos;ve used services like Netlify, GitHub Pages, and Cloudflare Pages in the past. Even within AWS, there are tons of ways to deploy a project. For this site, I&apos;m using S3 for storage and Cloudfront as the CDN.&lt;/p&gt;
&lt;h4&gt;Deployment&lt;/h4&gt;
&lt;p&gt;Right now, I build the project locally and use the AWS CLI to push it to S3. I use an account with limited permissions for this, and for security reasons, I block all public access to the S3 bucket, allowing it only for CloudFront. Next, I plan to set up automatic builds and deployments on every push or merge.&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Implementation Challenges &amp;amp; Key Features&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Here are some of the interesting challenges I ran into and the key features of the site.&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Design Phase (Multiple Pages):&lt;/strong&gt; Creating a design that works well on both mobile and desktop is tough. I used a mobile-first approach, so I&apos;d perfect the mobile design first. But translating it to desktop always left a lot of empty space. I finally landed on a design I liked after iterating through many different versions.&lt;/p&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Design Phase (Light/Dark Mode with Colors):&lt;/strong&gt; The more colors you add, the harder they are to maintain and harmonize. Add light and dark modes to the mix, and the complexity explodes. That&apos;s why I used the OKLCH color space. It let me focus on adjusting the hue instead of juggling a bunch of properties.&lt;/p&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Development Phase (Animations):&lt;/strong&gt; As my personal showcase, this site needed great performance. At first, there weren&apos;t many challenges. Everything was great, from performance and SEO to accessibility. Then I introduced the animations.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;The animation doesn&apos;t look complex, but building it manually with CSS was a different story. For a simple text hover effect, I had to create a separate element for each letter. Then I&apos;d spend the rest of the day just tuning the animation to get the look and feel right. The real problem was reusing it on text with a different number of letters. The animation I had spent so much time on was useless. Everything would break. I&apos;d have to spend hours, or even a whole day, just re-tuning the timing.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;So, I ended up using GSAP. It was faster in every way. It still causes a slight performance hit on mobile, since each letter needs its own element for the smooth effect, and mobile browsers don&apos;t love that. I had to sacrifice some mobile performance for the animation. I think good animation makes a huge difference in how a site feels, which is why I experimented with it. The site was completely static at first, and once everything else was done, it just felt... boring. I know some people prefer that, so I&apos;ve started implementing a way for animations to respect user preferences. That will be fully implemented in the next phase.&lt;/p&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Deployment Phase:&lt;/strong&gt; The hard part of deployment was something I dealt with years ago when I first set everything up. So, deploying now is a smooth process. There isn&apos;t much configuration to do these days, except for renewing the SSL/TLS certificate every year and setting up CORS for the custom CSS on my giscus comments.&lt;/p&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;h2&gt;Outcomes and Future Work&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;I&apos;m really happy with how it turned out. The next phase will bring a lot of improvements and maybe even some redesigns. I&apos;m calling this a win because it&apos;s the first project I&apos;ve actually finished outside of college. I even followed a software development lifecycle, and just like a real-world project, a lot of things changed along the way.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;This project was for experimentation, so not everything ended up exactly as planned. Some things just didn&apos;t scale well. But overall, it was a fun experience. For the next phase, I&apos;ll focus on improving performance even more. It&apos;s pretty good locally, but I&apos;ll need to test it again once it&apos;s live.&lt;/p&gt;
</content:encoded><media:content url="https://agust.io/_astro/background.Bgv9ptgR.svg" medium="image" type="image/svg+xml" width="1440" height="1024"/><dc:modified>2025-08-04T00:00:00.000Z</dc:modified><category>Projects</category><category>personal-website</category><category>portfolio</category><category>astro</category><category>threejs</category><category>web-development</category><category>creative-coding</category><category>digital-identity</category><category>brand-identity</category><category>logo-design</category><category>ui-ux-prototyping</category><category>3d-asset-creation</category><category>frontend-development</category><category>cloud-deployment</category><category>portfolio</category><category>projects</category><category>work</category><author>Putu Agustio Mahendra</author></item><item><title>BALERIA</title><link>https://agust.io/art/baleriana/</link><guid isPermaLink="true">https://agust.io/art/baleriana/</guid><description>Baleria.</description><pubDate>Mon, 07 Jul 2025 00:00:00 GMT</pubDate><content:encoded>&lt;p&gt;This series captures the interplay between rigid structures and fluid ideas, finding beauty in geometry and form.&lt;/p&gt;
</content:encoded><media:content url="https://agust.io/_astro/baleria.t70MrmEQ.png" medium="image" type="image/png" width="1436" height="1078"/><category>Art Gallery</category><category>baleria</category><category>art</category><category>gallery</category><category>artwork</category><author>Putu Agustio Mahendra</author></item><item><title>FAR</title><link>https://agust.io/art/far/</link><guid isPermaLink="true">https://agust.io/art/far/</guid><description>Far.</description><pubDate>Mon, 07 Jul 2025 00:00:00 GMT</pubDate><content:encoded>&lt;p&gt;This series captures the interplay between rigid structures and fluid ideas, finding beauty in geometry and form.&lt;/p&gt;
</content:encoded><media:content url="https://agust.io/_astro/far.CMg_Cfx-.png" medium="image" type="image/png" width="1441" height="895"/><category>Art Gallery</category><category>far</category><category>art</category><category>gallery</category><category>artwork</category><author>Putu Agustio Mahendra</author></item><item><title>PRY</title><link>https://agust.io/art/pry/</link><guid isPermaLink="true">https://agust.io/art/pry/</guid><description>Pry.</description><pubDate>Mon, 07 Jul 2025 00:00:00 GMT</pubDate><content:encoded>&lt;p&gt;This series captures the interplay between rigid structures and fluid ideas, finding beauty in geometry and form.&lt;/p&gt;
</content:encoded><media:content url="https://agust.io/_astro/hope.roC5xgfn.png" medium="image" type="image/png" width="1800" height="1080"/><category>Art Gallery</category><category>pry</category><category>pry</category><category>art</category><category>gallery</category><category>artwork</category><author>Putu Agustio Mahendra</author></item></channel></rss>